Upacara Ngalaksa di Desa Borogojol

oleh -212 views
Tradisi Ngalaksa di Desa Borogojol
Tradisi Ngalaksa di Desa Borogojol

ZONASIK.COM, Upacara Ngalaksa di Desa Borogojol – Borogojol, sabuah desa di Kecamatan Lemahsugih yang terletak di sebelah selatan Kabupaten Majalengka yang berebatasan langsung dengan Kabupaten Garut, Tasikmalaya dan Ciamis.

Sebuah desa yang terletak di bawah kaki Gunung Cakrabuana yang sangat jauh dari ramainya kota, berudara sejuk yang segar, sumber daya alam yang baik dan sumber air yang melimpah.

Secara umum sebagian besar mata pencaharian penduduk kami adalah petani, maka hasil pertanian di wilayah kami sangat melimpah.

Masyarakat kami hampir seluruh teretnis Sunda. Banyak sekali adat istiadat serta tradisi-tradisi dari leluhur kami yang masih kami jaga dan lestarikan.

Tradisi ini bukan untuk bermaksud syirik dan menyimpang dari ajaran agama Islam. Tapi kami anggap sebagai sosialisasi rasa syukur terhadap Tuhan yang maha pencipta serta penghormatan terhadap leluhur-leluhur kami terdahulu. Dan inilah cerita budaya desaku desa borogojol.

***

Di desa kami, Borogojol, banyak sekali adat budaya yang masih selalu kami laksanakan. Tiap tahun setelah selesai musim panen kami melaksanakan upacara “ngalaksa” sebagai ucapan rasa syukur kami terhadap allah SWT atas hasil panen yang melimpah masyarakat kami.

Arti kata Ngalaksa

Dalam kamus bahasa Sunda Ngalaksa berasal dari kata Nga dan Laksa. “Nga” berarti menunjukan proses akan melakukan sesuatu kegiatan dan “Laksa” yang berarti Makanan.

Dalam masyarakat kami makna kata dari ngalaksa yaitu “ngalaksanaken (Melaksanakan) amanat leluhur supaya melakukan syukuran setelah panen”.

Begitu berharganya padi yang merupakan sumber kehidupan masyarakat kami. Sehingga segala sesuatu yang berhubungan dengan padi selalu kami adakan ritual-ritual khusus mulai dari menanam benih sampai panen.

Sebelum upacara ngalaksa ada suatu kegiatan seperti badami. Di antaranya adalah Badami. Badami merupakan kata dari Bahasa Sunda yang memiliki arti musyawarah oleh tokoh-tokoh desa. Tujuannya untuk menentukan kapan waktu untuk melaksanakan upacara ngalaksa.

Apabila sudah tercapai kesepakatan, selanjutnya akan melakukan kegiatan dewara atau mengumumkan kepada seluruh masyarakat.

Setelah masyarakat mengetahui jadwal upacara ngalaksa, seminggu sebelum kegiatan upacara ngalaksa para Laki-laki bersama-sama pergi ke gunung untuk mencari dan mengambil bahan-bahan untuk kegiatan Ngalaksa. Di antaranya daun conkok, daun kajar-kajar dan daun cariang.

Sebelum pelaksanaan Ngalaksa

Sebelum pelaksanaan ngalaksa, ada satu kegiatan atau kebiasaan upacara yaitu upacara Hajat Nutu.

Hajat Nutu yaitu proses menumbuk padi oleh para perempaun dan sesepuh tokoh desa kami. Penumbukan padi haruslah padi pertama saat panen. Namanya Indung Pare.

Kegiatan menumbuk padi ini kami sebut dengan istilah nyitambean mesel dan orang yang mewakili menumbuk di atas lisung adalah ma goah.

Setelah selesai penumbukan padi menjadi gabah/beras, selanjutnya pembersihan beras (penapian) untuk menghilangkan kotoran. Lalu diisikan menggunakan air bersih atau istilah kami sebut dengan nyiraman nyai.

Setelah beras bersih selanjutnya proses permentasi selama 3 hari 3 malam dengan menggunakan daun cariang dan daun kajar-kajar tanpa bakteri permentasi.

Beras hasil permentasi tersebut kami tumbuk sehingga menjadi tepung atau istilah yang kami gunakan adalah mesel gelis.

Proses fermentasi beras

Pelaksanaan kegiatan nyinepken nyai dan mesel gelis oleh seluruh masyarakat desa. Setelah menjadi tepung, seluruh masyarakat mulai membuat makanan khas daerah kami yang di sebut dengan nama Baliung.

Baliung adalah makanan yang terbuat dari tepung beras yang diolah dicampur dengan air lalu dibungkus dengan daun congkok lalu di rebus dengan matang, pada saat tengah malam sebelum puncak acara ngalaksa.

Sebagian baliung yang sudah matang kembali ditumbuk di atas jeblug pane untuk dibuat menjadi adonan kembali, sampai adonan tersebut kami kenal dengan istilah “orok-orok”.

Orok-orok ini pada upacara ngalaksa akan direntet di jambangan/Wadah dan setelah persiapan upacara itu selesai tibalah pada puncaknya dari budaya yang ada di desa kami yaitu Ngalaksa.

Pelaksanaan Ngalaksa

Waktu pelaksanaan di pagi hari, seluruh masyarakat berkumpul di balai desa, membawa berbagai makanan. Setelah semua berkumpul, seluruh masyarakat akan berjalan beriring-iringan ke makam leluhur kampung yaitu makam eyang brogogati untuk melaksanakan acara puncak Ngalaksa.

Makam leluhur

Sebelum pelaksanaan upacara Ngalaksa, kami melakukan hadoroh atau tawasulan terlebih dahulu sebagai rasa syukur seluruh masyarakat kepada Maha Pencipta, sekaligus mendoakan leluhur serta keluarga yang sudah tiada.

Pemimpin kegiatan yaitu aki kuncen. Puncaknya acara ini adalah memasukan orok-orok sarentetan-sarentetan ke dalam kemplung yang di dalamnya terdapat bolong-bolong. Tujuannya sebagai jalan kaluar orok-orok yang digencet, lalu ditutup oleh kili-kili digencet oleh alu-alu dan ditekan oleh cacagan tersebut, kemudian ditarik oleh masyarakat dan aparat pemerintah desa.

Hal ini mempunyai makna adanya kesinergisan antara pemerintah desa dan masyarakat. Sebelum masyarakat dan aparat desa menarik dopang, aki kuncen berdoa untuk keselamatan. Sesudah proses pengepresan (gencet) orok-orok yang masuk, keluar menjadi lembaran-lembaran mirip mie.

Orok-orok itulah bernama Laksa atau makanan yang paling sakral dalam kegiatan segala proses kegiatan upacara Ngalaksa.

Laksa

Setelah selesai kegiatan upacara ngalaksa semua masyarakat yang hadir membagikan makanan yang mereka bawa masing-masing untuk saudara, tetangga, ataupun juga warga masyarakat lainya yang ada di sekitar desa.

Tujuan Ngalaksa

Inilah salah satu tujuan adanya tradisi ngalaksa, yaitu bersedekah dan berbagi kesesama.

Ngalaksa adalah budaya lokal sebenarnya yang belum punah. Tradisi ini masih hidup dan melekat di masyarakat pedesaan, terutama di desa kami Borogjol.

Sebagai manusia modern tentu kita tidak mau hidup dalam peradaban budaya lama, tapi jangan sampaikan melupakan peradaban yang membawa nilai positif dalam bermasyarakat.

Pewarisan budaya sangat penting, karena dengan adanya budaya membuat manusia dapat menunjukkan jati dirinya kita sebagai suatu bangsa. Oleh karena itu, marilah kita lestarikan budaya yang ada di desa kita.

Penulis: Cicin Yuningsih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *